Fakor Prilaku Olahraga
Faktor Perilaku Olahraga
Robert
Y. Kwick (1972) menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu
organisme yang dapat diamati dan bahkan dipelajari. Menurut Ensiklopedi
Amerika, perilaku diartikan sebagai suatu aksi dan reaksi organisme terhadap
lingkungannya, hal ini berarti bahwa perilaku baru akan terwujud bila ada
sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan tanggapan yang disebut rangsangan,
dengan demikian maka suatu rangsangan tertentu akan menghasilkan perilaku
tertentu pula.
Menurut Green ,
faktor perilaku dibentuk oleh tiga faktor utama yaitu :
1. Faktor
predisposisi (predisposing factors), yaitu faktor yang mempermudah atau
mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang antara lain pengetahuan, sikap,
keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai dan tradisi.
2. Faktor
pemungkin (enabling factors), yaitu faktor yang memungkinkan atau yang
memfasilitasi perilaku atau tindakan antara lain umur, status sosial ekonomi,
pendidikan, prasarana dan sarana serta sumber daya.
3. Faktor
pendorong atau penguat (reinforcing factors), faktor yang mendorong atau
memperkuat terjadinya perilaku misalnya dengan adanya contoh dari para tokoh
masyarakat yang menjadi panutan.
Faktor yang
mempengaruhi perilaku:
1. Faktor Internal
Tingkah laku
manusia adalah corak kegiatan yang sangat dipengaruhi oleh faktor yang ada
dalam dirinya. Faktor-faktor intern yang dimaksud antara lain jenis
ras/keturunan, jenis kelamin, sifat fisik, kepribadian, bakat, dan
intelegensia. Faktor-faktor tersebut akan dijelaskan secara lebih rinci seperti
di bawah ini.
a. Jenis Ras/
Keturunan
Setiap ras yang
ada di dunia memperlihatkan tingkah laku yang khas. Tingkah laku khas ini berbeda
pada setiap ras, karena memiliki ciri-ciri tersendiri. Ciri perilaku ras
Negroid antara lain bertemperamen keras, tahan menderita, menonjol dalam
kegiatan olah raga. Ras Mongolid mempunyai ciri ramah, senang bergotong royong,
agak tertutup/pemalu dan sering mengadakan upacara ritual. Demikian pula
beberapa ras lain memiliki ciri perilaku yang berbeda pula.
b. Jenis Kelamin
Perbedaan perilaku
berdasarkan jenis kelamin antara lain cara berpakaian, melakukan pekerjaan
sehari-hari, dan pembagian tugas pekerjaan. Perbedaan ini bisa dimungkikan
karena faktor hormonal, struktur fisik maupun norma pembagian tugas. Wanita
seringkali berperilaku berdasarkan perasaan, sedangkan orang laki-laki cenderug
berperilaku atau bertindak atas pertimbangan rasional.
c. Sifat Fisik
Kretschmer Sheldon
membuat tipologi perilaku seseorang berdasarkan tipe fisiknya. Misalnya, orang
yang pendek, bulat, gendut, wajah berlemak adalah tipe piknis. Orang dengan
ciri demikian dikatakan senang bergaul, humoris, ramah dan banyak teman
d. Kepribadian
Kepribadian adalah
segala corak kebiasaan manusia yang terhimpun dalam dirinya yang digunakan
untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsang baik yang
datang dari dalam dirinya maupun dari lingkungannya, sehingga corak dan
kebiasaan itu merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas untuk manusia itu.
Dari pengertian tersebut, kepribadian seseorang jelas sangat berpengaruh
terhadap perilaku sehari-harinya.
e. Intelegensia
adalah keseluruhan
kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah dan efektif.
Bertitik tolak dari pengertian tersebut, tingkah laku individu sangat
dipengaruhi oleh intelegensia. Tingkah laku yang dipengaruhi oleh intelegensia
adalah tingkah laku intelegen di mana seseorang dapat bertindak secara cepat,
tepat, dan mudah terutama dalam mengambil keputusan
f. Bakat
Bakat adalah suatu
kondisi pada seseorang yang memungkinkannya dengan suatu latihan khusus
mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus, misalnya berupa
kemampuan memainkan musik, melukis, olah raga, dan sebagainya
2. Faktor
Eksternal
a. Pendidikan
Inti dari kegiatan
pendidikan adalah proses belajar mengajar. Hasil dari proses belajar mengajar
adalah seperangkat perubahan perilaku. Dengan demikian pendidikan sangat besar
pengaruhnya terhadap perilaku seseorang. Seseorang yang berpendidikan tinggi
akan berbeda perilakunya dengan orang yang berpendidikan rendah.
b. Agama
Agama akan menjadikan individu bertingkah laku sesuai dengan norma dan nilai yang diajarkan oleh agama yang diyakininya.
c. Kebudayaan
diartikan sebagai
kesenian, adat istiadat atau peradaban manusia. Tingkah laku seseorang dalam
kebudayaan tertentu akan berbeda dengan orang yang hidup pada kebudayaan
lainnya, misalnya tingkah laku orang Jawa dengan tingkah laku orang Papua.
d. Lingkungan
Adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh untuk mengubah sifat dan perilaku individu karena lingkungan itu dapat merupakan lawan atau tantangan bagi individu untuk mengatasinya. Individu terus berusaha menaklukkan lingkungan sehingga menjadi jinak dan dapat dikuasainya.
e. Sosial Ekonomi
Status
sosial ekonomi seseorang akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang
diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan
mempengaruhi perilaku seseorang.
Faktor
perilaku yang banyak terkait dengan kejadian hypertensi dapat disebutkan antara
lain stres pekerjaan, kebiasaan merokok, dan kebiasaan berolah raga. Hampir
semua orang di dalam kehidupan mereka mengalami stress berhubungan dengan
pekerjaan mereka. Hal ini dapat dipengaruhi karena tuntutan kerja yang terlalu
banyak (bekerja terlalu keras dan sering kerja lembur) dan jenis pekerjaan yang
harus memberikan penilaian atas penampilan kerja bawahannya atau pekerjaan yang
menuntut tanggung jawab bagi manusia.
Stres
pada pekerjaan cenderung menyebabkan hipertensi berat. Sumber stres dalam
pekerjaan (Stressor) meliputi beban kerja, fasilitas kerja yang tidak memadai,
peran dalam pekerjaan yang tidak jelas, tanggung jawab yang tidak jelas,
masalah dalam hubungan dengan orang lain, tuntutan kerja dan tuntutan keluarga.
Beban
kerja meliputi pembatasan jam kerja dan meminimalkan kerja shift malam. Jam
kerja yang diharuskan adalah 6-8 jam setiap harinya. Sisanya (16-18 jam setiap
harinya) digunakan untuk keluarga dan masyarakat, istirahat, tidur, dan
lain-lain. Dalam satu minggu seseorang bekerja dengan baik selama 40-50 jam,
lebih dari itu terlihat kecenderungan yang negatif seperti kelelahan kerja,
penyakit dan kecelakaan kerja (Suma’mur, 1998).
Stres
dapat meningkatkan tekanan darah dalam waktu yang pendek, tetapi kemungkinan
bukan penyebab meningkatnya tekanan darah dalam waktu yang panjang. Dalam suatu
penelitian, stres yang muncul akibat mengerjakan perhitungan aritmatika dalam
suatu lingkungan yang bising, atau bahkan ketika sedang menyortir benda
berdasarkan perbedaan ukuran, menyebabkan lonjakan peningkatan tekanan darah
secara tiba-tiba (Beevers, 2002).
Hubungan
antara stres dengan hipertensi diduga melalaui saraf simpatis yang dapat
meningkatkan tekanan darah secara intermiten. Apabila stres berlangsung lama
dapat mengakibatkan peninggian tekanan darah yang menetap. Pada binatang
percobaan dibuktikan bahwa pajanan terhadap stres menyebabkan binatang tersebut
menjadi hipertensi (Isselbacher, et al., 2000).
Kebiasaan
merokok, minum minuman beralkohol dan kurang olahraga serta bersantai dapat
mempengaruhi peningkatan tekanan darah. Rokok mempunyai beberapa pengaruh
langsung yang membahayakan jantung. Apabila pembuluh darah yang ada pada
jantung dalam keadaan tegang karena tekanan darah tinggi, maka rokok dapat
memperburuk keadaan tersebut (Smith, 1986). Merokok dapat merusak pembuluh
darah, menyebabkan arteri menyempit, dan lapisan menjadi tebal dan kasar.
Akibatnya keadaan paru-paru dan jantung mereka yang merokok tidak dapat bekerja
secara efisien.
Olahraga lebih banyak dihubungkan dengan pengelolaan hipertensi karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah (Arjatmo, 2001). Meskipun tekanan darah meningkat secara tajam ketika sedang berolahraga, namun jika berolahraga secara teratur akan lebih sehat dan memiliki tekanan darah lebih rendah dari pada mereka yang tidak melakukan olahraga. Olahraga yang teratur dalam jumlah sedang lebih baik dari pada olahraga berat tetapi hanya sekali. Olahraga juga dikaitkan dengan peran obesitas pada hipertensi.
Kurang
olahraga akan meningkatkan kemungkinan timbulnya obesitas dan jika asupan garam
juga bertambah akan memudahkan timbulnya hipertensi. Seseorang yang rajin
berolahraga memiliki risiko lebih rendah untuk menderita penyakit jantung,
tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi. Oleh karena itu, latihan fisik
selama 30-45 menit sebanyak lebih dari tiga kali per minggu penting sebagai
pencegahan primer dari hipertensi (Cortas, 2008).
Faktor-Faktor Latihan Progresif
Perlu di tekankan
prinsip-prinsip pemberian beban lebih yang bertahap dan prinsip spesifisitas
dari latihan:
Latihan progresif
untuk lari-lintas-alam, perlombaan atletik tes Pola NAPFA diperkenalkan di
singapura tahun 1981 dengan tujuan sebagai berikut:
a. Untuk
mengusahakan tercapainya suatu tingkat kebugaran jasmani menyeluruh yang
diinginkan bagi rakyat singapura.
b. Untuk
memberikan suatu cara sederhana tetapi dapat di percaya untuk mengevaluasi
kebugaran jasmani menyeluruh bagi pria dan wanita berumur 12 tahun atau lebih.
c. Untuk
memberikan lencana emas,perak dan perunggu, sertifikat dan hadiah lain bagi
mereka yang memenuhi standar yang diperlukan, sebagai pengharagaan akan
prestasi mereka.
d. Untuk
melengkapi, menambah untuk mengganti sebagian atau seluruhnya deretan
organisasi-organisasi ujian kebugaran jasmani, seperti sekolah angkatan
bersenjata, polisi dan badan-badan olahraga.
e. Untuk
mendapatkan informasi yang lebih dapat dipercaya tentang kebugaran jasmani dari
orang singapura. Hal ini diperoleh dengan cara mempelajari dan membandingkan
hasi-hasil ujian yang dilakukan pada berbagai golongan orang di singapura dan
juga membandingkan hasil-hasil ini dengan golongan-golongan yang serupa di
negara lain.
Memerlukan waktu
minimal 4 sampai 6 minggu (sebaiknya paling tidak 8 sampai 12 minggu). Petunjuk
resep FITT dapat diterapkan untuk latihan-latihan progresif ini:
F = Frekuensi
: 3 sampai 5 hari setiap minggu
I =
Intensitas : Mulailah
dengan 60% sampai 75% dari denyut jantung maksimal yang sebenarnya atau yang di
perkirakan menurut umur. Tingkatkan sampai 70%-85%
T = Tipe
aktivitas : aerobik (misalnya jogging), kalistenik (misalnya
peregangan, menyentuh jari kaki) dan latihan yang spesifik terhadap perlombaan
(misalnya nomor-nomor tes NAPFA)
T = Time
(waktu) : setiap kali mulailah dengan berlatih 5 sampai 15 menit;
tingkatkan sampai 30-60 menit.
Salah
satu cara untuk mengukur denyut jantung per menit ialah dengan menghitung
denyut jantung atau nadi selama 6 detik dan kalikan hasilnya 10 kali:
Denyut
Per Menit = Denyut dalam 6 detik x 10
Kecepatan peningkatan latihan bergantung pada tingkat kebugaran awal dari orang yang bersangkutan dan pada responnya terhadap program latihan tersebut.
a. Latihan
kekuatan
Komponen kondisi
fisik seseorang tentang kemampuannya dalam mempergunakan otot untuk menerima
beban sewaktu bekerja. Jadi, otot lebih kuat jika dilatih, beban waktu latihan
yang cukup sesuai tahap. Un tuk latihan sifatnya individual, otot yang di latih
benar-benar tidak cedera.
b. Latihan
Keterampilan
Pencegahan lewat
keterampilan mempunyai andil yang besar dalam pencegahan cedera itu telah
terbukti, karena penyiapan atlit dan resikonya harus di pikirkan lebih awal.
Untuk itu para atlit sangat perlu ditumbuhkan kemampuan untuk bersikap wajar
atau relaks. Dalam menyangkutkan atlit tidak cukup keterampilan tentang
kemampuan fisik saja namun termaksud daya pikir, membaca situasi, mengetahui
bahaya yang bisa terjadi dan mengurangi resiko cedera.
c. Latihan
Fitness
Pencegahan lewat
latihan fitness secara terus menerus mampu mencegah cedera pada atlit baik
cedera otot, sendi dan tendor. Serta mampu bertahan untuk pertandingan lebih
lama tanpa kelelahan.
Komentar
Posting Komentar