Klasifikasi Cedera dalam Olahraga
Klasifikasi Cedera dalam Olahraga
Cedera merupakan sesuatu yang terjadi akibat ketidak mampuan tubuh mengatasi gaya-gaya yang bekerja pada tubuh. Cedera atau luka juga disebut sebagai kerusakan pada struktur atau fungsi tubuh yang dikarenakan suatu paksaan atau tekanan fisik maupun kimiawi.
Cedera
Olahraga adalah rasa sakit yang ditimbulkan karena olahraga,sehingga dapat
menimbulkan cacat, luka dan rusak pada otot atau sendi serta bagianlain dari
tubuh.Pengertian cedera olahraga adalah rasa saikit/gangguan pada sistem otot
ataurangka tubuh yang disebabkan oleh kegiatan olahraga, rasa sakit yang
ditimbulkankarena olahraga, sehingga dapat menimbulkan cacat, luka dan rusak
pada otot atausendi serta bagian lain dari tubuh.Ada beberapa pengertian cedera
menurut para ahli sebagai berikut:
1. Menurut Syamsuri E (1984 : 36)
Cedera adalah memar atau luka, ataudislokasi dari otot, sendi atau tulang yang disebabkan oleh kecelakaan, benturan (body contac) atau gerakan yang berlebihan sehingga otot, tulang,atau sendi tidak dapat menahan beban atau menjalankan tugasnya.
2. Menurut G. La. Cava (1995 : 145)
Cedera dalam dunia olahraga yaitu rusaknya jaringan (lunak atau keras) baik otot, tulang, atau persendian yang disebabkan oleh kesalahan teknis, benturan atau aktifitas yang melebihi batas beban latihan seperti normalnya (over training) yang dapat menimbulkan rasa sakit atau nyeri akibat dari kelebihan latihan dalam memberikan pembebeanan yangterlalu berat (overload) sehingga otot, tulang, atau persendian tidak lagi dalam keadaan atau posisi anatomis (dislokasi).
3. Menurut Hadianto W (1995 : 11)
Cedera dalam olahraga adalah segala macamcedera yang timbul pada waktu latihan ataupun pada watu pertandingan.
Cedera dalam pengertian umumnya adalah rasa sakit yang ditimbulkan karena aktivitas yang berlebihan, sehingga dapat menimbulkan cedera,luka dan rusak pada otot atau sendi, serta bagian lain dari tubuh.
Klasifikasi cedera olahraga terbagi 4 :
1. Cedera ringan
2. Cedera Sedang
3. Cedera berat
4. Cedera lainnya
1. Cedera Ringan
Pada cedera ini penderita tidak mengalami keluhan yang serius, cederanya pun masih bisa diperbaiki oleh diri sendiri, juga tidak mengganggu jalannya sebuah pertandingan. Misalnya: luka, lecet, lepuh, kontusio/memar, hematoma/lebam, dan kram.
JENIS CEDERA RINGAN
Pada cedera ini penderita tidak mengalami keluhan yang serius, atau bisa dikatakan cedera ini masih bisa diperbaiki atau ditangani oleh diri sendiri serta tidak mengganggu performance atau jalannya pertandingan. Misalnya: luka, lepuh, kontusio/memar, hematoma/lebam, kram.
1. Luka
Menurut Hartono Satmoko (1993 : 187), luka didefinisikan sebagai suatu ketidaksenambungan dari kulit dan jaringan dibawahnya yang mengakibatkan pendarahan yang kemudian dapat mengalami infeksi. Luka dapat dibagi menjadi dua yaitu :
1. Luka lecet (Abrasi) : cedera goresan pada kulit.
2. Lepuh : cedera gesekan pada kulit.
2. Lepuh
Bila lepuhnya robek, potonglah sisa-sisa kulitnya. Kemudian bersihkanlah dan bebatlah dengan bahan yang tidak melekat. Bila lepuh utuh dan tidak mudah robek, biarkan atau letakkan bebat untku lepuh diatasnya. Bila dilepuhnya tegang, nyeri atau terlihat akan bebat yang bersih.
- Luka Lecet, lepuh, luka sayat dan luka lain
A. Defenisi
Suatu luka suatu yang didefenisikan sebagai suatu ketidak seimbangan dari kulit dan jaringan di bawahnya yang mengakibatkan perdarahan yang kemudian dapat mengalami imfeksi.
Luka-luka yang lazim pada olahraga:
- Luka lecet (abrasi) : cedera goresan pada kulit
- Lepuh : cedera gesekan pada kulit
Luka sayat atau luka robek adalah cedera yang disebabkan karena benda tajam yang dapatmemotong ( misalkan pecahan gelas, batu atau ubin tajam, kaleng terbuka), sedangkan luka tusuk adalah cedera yang disebabkan karena benda runcing (paku, Pancing, kawat).
Luka yang diperoleh pada waktu olahraga biasanya kotor. Luka demikian lebih mudah mengalami infeksi. Bila luka tidak diobati dengan benar dan terjadi komplikasi seperti infeksi, akan terjadi penundaan penyembuhan dan dengan demikian mempengaruhi program latihan dari atlet atau performancenya. Oleh karena itu adalah penting untuk membersihkan dan membebat luka-luka demikian dengan benar.
B. Pembebatan/pembalutan
Pembalutan ialah menutupi suatu luka atau cedera lain dengan menutupnya secara steril ataupun terjaga kebersihannya. Pembalutan bermanfaat karena:
- Menghentikan atau mencegah pendarahan dan infeksi.
- Membatasi pergerakan dan dengan demikian mencegah cedera lebih lanjut.
- Menyerap sekresi dan menutupi daerah cedera
Bahan-bahan dasar yang diperlukan untuk pembalut ialah:
- Cairan pembersih, misalnya lacion. Cetrimide 1%, sabun dan air.
- Wol, kapas, kasa sikat lunak.
- Krim atau lasion antiseptik, misalnya 1/1000 flavine, gentian, violet.
- Plester, bebat misalnya kain krep, kasa, Coban, segitiga.
- Kadang-kadang diperlukan: gunting, penjepit, forseps, sarung tangan, tutup muka.
C. Prosedur pembebatan
- Sebelum pembebatan
Nilailah luka secepat mungkin. Bila luka panjang dan dalam dan banyak mengeluarkan darah, lakukan tekanan langsung selama 3 sampai 5 menit dengan bebat tekan yang bersih (misalnya kasa, saputangan bersih) atau sebuah bebat tekan kemudian kirimlah korban kedokter atau rumah sakit untuk pengobatan. Jangan mencoba membersihkan luka demikian. Namun bila lukanya tidak banyak mengeluarkan darah dan tidak begitu parah, lakukan dengan pembebatan seperti berikut:
Tenangkan pasien dan letakkan dia pada posisi yang aman dan enak (bergantung pada cederanya).
Siapkan bahan-bahan untuk pembebatan.
Cucilah tangan anda dengan sabun dan air (sebaiknya air bersih dari kran).
- Pada waktu pembebatan
a. Jangan batuk atau bernafas ke arah luka.
b. Jangan menotori bebat karena tangan memegang benda lain yang tidak bersih.
c. Bersihkan luka secara baik, dimana membersihkan luka secara baik adalah sebagai berikut:
Bersihkan kotoran yang berlebihan dengan air yang mengalir atau sikat dengan yang lunak.
Basahi wol katun dengan sedikit cairan pembersih, misalnya lasion cetrimide. Ingat : jangan memegang bagian wol katun yang akan menempel atau bersentuhan dengan luka.
Cucilah daerah yang bersih terlebih dahulu, kemudian baru bagian yang kotor. Sesudah setiap sekaan gunakan kapas yang baru. Lanjutkan pembersihan sampai kotoran yang berlebihan dan darah telah hilang.
d. Kemudian olesi luka dengan krim atau losion antiseptik (misalnya flavine).
e. Keringkan daerah sekitar, dan kemudian letakkan kasa bersih dan kering diatas luka.
f. Biarkan kasa pada tempat itu dengan plaster atau bebat.
2. Memar
Memar adalah suatu jenis cedera pada jaringan tubuh, yang menyebabkan aliran darah dari sistem kardiovaskular mengedap pada jaringan sekitarnya disebut hematoma, dan tidak disertai robeknya lapisan kulit. Memar ditimbulkan oleh trauma seperti tumbukan benda tumpul dan menimbulkan rasa sakit walaupun pada umumnya tidak berbahaya.
Endapan sel darah pada jaringan kemudian mengalami fagositosis dan di daur ulang oleh makrofaga.Warna biru atau ungu yang terdapat pada memar merupakan hasil reaksi konversi dari hemoglobin menjadi bilirubin. Lebih lanjut bilirubin akan dikonversi menjadi hemosiderin yang berwarna kecoklatan.
A. Definisi
Kontusio disebabkan karena suatu pukulan langsung pada kulit dan hanya menyebabkan lecet pada kulit (menimbulkan daerah kebiru-biruan atau kehitaman) atau jaringan-jaringan dibawahnya, misalnya otot. Bila terdapat pendarahan yang cukup, timbulnya pendarahan didaerah yang terbatas disebut hematoma.
B. Deskripsi
Cedera ini disebabkan karena terjadinya tumbrukan ataupun benturan dengan oerang lain atau dengan suatu benda, dimana korban biasanya dapat menunjukkan tempat cedera.
Bila kontosio terjadi di daerah otot, ototnya dapat mengalami kram. Bila serabut-serabut robek, maka terjadi apa yang disebut “strain” otot. Pembekakan karena perdarahan (hematoma) dapat sangat, terutama bila terjadi di daerah paha depan atau pungung.
C. Pencegahan
Dalam olahraga lindungilah daerah-daerah yang mudah mengalami kontusio, misalnya memakai:
a. Pelindung garas pada hockey dan sepak bola
b. Pelindung lutut dan siku pada bola volley
c. Pelindung muka atau protektor pada penjaga gawang hockey.
D. Pertolongan pertama
Lakukan terapi “RICE”. Bila karena suatu kontusio terjadi pembebakakan yang nyata, pasanglah pembebatan dengan tekanan dan kirim ke rumah sakit. (Juga bila anda tidak pasti tentang ringan beratnya cedera, misalnya kontusio pada perut atau dada, kemungkinan terjadinya fraktur dan sebagainya).
3. Kram Otot
Kram otot adalah kontraksi yang terus menerus yang dialami oleh otot atau sekelompok otot dan mengakibatkan rasa nyeri. (Hardianto Wibowo, 1995 : 31) penyebab kram adalah otot yang terlalu lelah, kurangnya pemanasan serta peregangan, adanya gangguan sirkulasi darah yang menuju ke otot sehingga menimbulkan kejang.
Salah satu pemicu kram pada jari kaki adalah kekurangan mineral terutama kalsium. Kram bisa dicegah dengan menghindari olahraga setelah makan dan meregangkan otot otot sebelum berolahraga dan sebelum tidur.
a). Penyebab terjadinya kram :
Pada waktu berolahraga terjadi proses pembakaran yang menghasilkan sisa metabolik yang menumpuk berupa asam laktat kemudian merangsang otot/saraf hingga terjadi kram.
Kurang pemanasan (Warming Up) serta pendinginan (Cooling Down).
Adanya gangguan sirkulasi darah yang menuju keotot, sehingga menimbulkan kejang.
b). Kram yang mungkin terjadi yaitu :
Otot perut (Abduminal)
Otot betis (Gastrocnenius)
Otot paha belakang (Hamstring)
Otot telapak kaki
Penanganan cedera pada umumnya terhadap kram otot yang dilakukan menurut Hardianto Wibowo, (1995 : 33) adalah sebagai berikut :
ü Atlet di istrahatkan, diberikan semprotan chlor ethyl spray untuk menhilangkan rasa nyeri/sakit yang bersifat local, atau digosok dengan obat-obatan pemanas seperti conterpain, dan salonpas gell untuk melebarkan pembuluh darah sehingga aliran darah tidak terganggu karena kekuatan/kekejangan otot pada terjadi kram.
ü Pada saat otot kejang sampai kejangnya hilang. Menahan otot waktu berkontraksi sama artinya dengan kita menarik otot tersebut supaya nyiosin filament dan actin myosin dapat menduduki posisi yang semestinya sehingga kram berhenti. Pada waktu di tahan dapat di semprotdengan chlor etyl spray, hingga hilang rasa nyeri.
a. Luka
Luka merupakan suatu kerusakan integritas kulit yang dapat terjadi ketika kulit terpapar suhu atau pH, zat kimia, gesekan, trauma tekanan dan radiasi. Respon tubuh terhadap berbagai cedera dengan proses pemulihan yang kompleks dan dinamis yang menghasilkan pemulihan anatomi dan fungsi secara terus menerus disebut dengan penyembuhan luka.
b. Lecet
Lecet merupakan luka yang di sebabkan oleh gesekan oleh benda atau lantai yang tidak halus yang menyebabkan permukaan kulit terkelupas dan berdarah namun tidak mengalami pendarahan.
c. Lepuh
Lepuh (blister), secara medik disebut vesicle, adalah kantong kecil di kulit
berisi cairan serous dan diameternya 1 cm disebut bula. Lepuh dapat
terjadi karena gesekan atau masalah kesehatan lainnya. Berikut, penyakit dan
kondisi yang bisa menyebabkan lepuh.
d. Memar
Memar adalah cedera yang disebabkan oleh benturan atau pukulan pada kulit. Jaringan di bawah permukaan kulit rusak dan pembuluh darah kecil pecah, sehingga darah dan cairan seluler merembes ke jaringan sekitarnya.
2. Cedera Sedang
Pada cedera tingkat kerusakan jaringan lebih nyata berpengaruh pada performance atlit. Keluhan bias berupa nyeri, bengkak, gangguan fungsi (tanda-tanda inplamasi).misalnya: sprain dan strain.
a. Sprain
Sprain merupakan cedera yang disebabkan adanya peregangan yang berlebihan sehingga terjadi cedera pada ligamen. Gejala : nyeri, bengkak, perdarahan pada ligamen, tidak dapat menggerakkan sendi, kesulitan untuk menggunakan area yang cedera.menurut Menurut Sadoso (1995: 11-14) “sprain adalah cedera pada ligamentum, cedera ini yang paling sering terjadi pada berbagai cabang olahraga.”
Berdasarkan berat ringannya cedera Giam & Teh (1992: 195) membagi sprain menjadi tiga tingkatan,yaitu:
- Sprain Tingkat I
Pada cedera ini terdapat sedikit hematoma dalam ligamentum dan hanya beberapa serabut yang putus. Cedera menimbulkan rasa nyeri tekan, pembengkatan dan rasa sakit pada daerah tersebut.
- Sprain Tingkat II
Pada cedera ini lebih banyak serabut dari ligamentum yang putus, tetapi lebih separuh serabut ligamentum yang utuh. Cedera menimbulkan rasa sakit, nyeri tekan, pembengkakan, efusi, (cairan yang keluar) dan biasanya tidak dapat menggerakkan persendian tersebut.
- Sprain Tingkat III
Pada cedera ini seluruh ligamentum putus, sehinnga kedua ujungya terpisah. Persendian yang bersangkutan merasa sangat sakit, terdapat darah dalam persendian, pembekakan, tidak dapat bergerak seperti biasa, dan terdapat gerakan–gerakan yang abnormal.
b. Strain
Strain merupakan
menyangkut cedera otot atau tendon.menurut Giam & Teh (1992: 93) “strain
adalah kerusakan pada suatu bagian otot atau tendo karena penggunaan yang
berlebihan ataupun stress yang berlebihan.
3. Cedera Berat
Pada cedera tingkat ini atlit perlu penanganan yang intensif, istirahat total dan mungkin perlu tindakan bedah jika terdapat robekan lengkap atau hampir lengkap ligament (sprain grade III) dan IV atau sprain fracture) atau fracture tulang.
Jenis Cedera Berat
Cedera berat merupakan sebuah kerusakan atau cedera yang sangat berbahaya yang dialami oleh atlet atau siapa saja sehingga mengganggu bahkan menghentikan performance atlet yang memerlukan penanganan yang inensif dalam artian harus istirahat total, dan mungkin saja memerlukan tindakan bedah jika terdapat robekan lengkap ataupun hampir lengkap.
a. Dislokasi
Dislokasi adalah bergesernya sendi pada daerah pergelangan tangan, pergelangan kaki, bahu, dan daerah sendi lainnya. Dislokasi terjadi bisa karena disebabkan jatuh dari ketinggian yang menyebabkan sendi bergeser.
Menurut Kartono Mohammad (2001), dislokasi adalah terlepasnya sebuah sendi dari tempatnyayang seharusnya. Di sini saya mengambil kesimpulan bahwa dislokasi adalah lepas atau pindahnya sebuah sendi dari tempat seharusnya, dimana jika seseorang sudah pernah mengalami dislokasi sekali maka kemungkinan ligamennya menjadi kendor sehingga akan mudah mengalami dislokasi kembali
Menurut Brunner & Suddart, 2002, KMB, edisi 8, vol 3,Halaman 2355 Dislokasi sendi adalah suatu keadaan dimana permukaan sendi tulang yang membentuk sendi tak lagi dalam hubungan anatomis.
b. Fraktur (patah tulang)
Fraktur merupakan patahnya bagian tulang yang sering terjadi dibagian tulang tibia ,tulang panggul,tulang pergelangan tangan dan bagian-bagian lainnya dalam artian bisa terjadi dimana saja. Fraktur terjadi karena benturan yang sangat keras yang mengakibatkan patah atau pecahnya tulang.
Menurut Apley (1995), fraktur adalah suatu patahan kontinuitas tulang, dimana patahan bisa terjadi mungkin lebih dari sat retakan. Dari kalimat tersebut saya mengambil kesimpulan bahwa fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang bisa terjadi dimana saja sebagai efek dari benturan tulang yang ekstrem.
Fraktur sendiri sebenarnya dapat dibagi dua yakni fraktur sederhana dan fraktur kompleks. Fraktur sederhana adalah kondisi patah tulang yang tulangnya tetap berada didalam kulit dalam artian tidak menembus kulit dan biasanya masa pemulihannya sekitar tiga bulanan. Sebaliknya fraktur kompleks adalah kondisi patah tulang yang tulangnya sudah menembus permukaan kulit dan menyebabkan pendarahan yang hebat, sehingga membutuhkan masa pemulihan yang lebih lama.
1. Dislokasi / terkilir
Dislokasi merupakan sebuah keadaan dimana posisi tulang pada sendi tidak pada tempat yang semestinya.menurut Kartono Mohammad, 2001: 3 Dislokasi adalah terlepasnya sebuah sendi dari tempatnya yang seharusnya. Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi di bahu, sendi panggul (paha), karena terpeleset dari tempatnya maka sendi itupun menjadi macet dan juga terasa nyeri.
2. Patah Tulang
Fruktur merupakan Yaitu terganggunya struktur jaringan tulang yang disebabkan karena tulang mengalami suatu trauma atau gaya yang melebihi batas kemampuan yang mampu diterimanya. Bentuk dari patah tulang dapat berupa hanya retakan hingga hancur berkeping-keping.menurut Patah tulang adalah suatu keadaan yang mengalami keretakan, pecah atau patah, baik pada tulang maupun tulang rawan.
D. Jenis Cedera Lainnya
Cedera lainnya merupakan kaitan antara ketiga cedera (cedera ringan, cedera sedang, dan cedera berat). Karena ia tidak bisa dimasukkan kedalam salah satu cedera yang tersebut. Pada cedera ini manusia secara umum dan pelaku olahraga secara khusus sering kali menganggap remeh, padahal cedera ini bisa saja menyebabkan kematian secara mendadak pada manusia jika tidak ditanggulangi dengan cepat dan tepat.
a. Kejang
Menurut Doenges (1993), kejang adalah aktivitas motorik dan gangguan fenomena sensorik akibat dari pelepasan muatan listrik secara tiba-tiba yang tak terkontrol dari sel saraf korteks serebral yang ditandai dengan serangan tiba-tiba disertai gangguan kesadaran.
Dimana saya mengambil kesimpulan bahwa kejang adalah serangan mendadak dari sistem saraf yang menyebabkan hilangnya atau terganggunya kesadaran dan tubuh yang bergetar tak terkendali. Kejang juga merupakan gangguan bagi fungsi kerja otak.
b. Pingsan
Pingsan yaitu hilangnya kesadaran secara tiba-tiba yang disebabkan aktivitas fisik di atas kemampuan jantung dalam artian sudah sangat berlebihan. Menurut Giam dan Teh (1992), pingsan adalah keadaan kehilangan kesadaran yang bersifat sementara dan singkat, disebabkan oleh berkurangnya aliran darah, oksigen, dan glukosa.
Dimana saya mengambil kesimpulan bahwa pingsan adalah kondisi hilangnya kesadaran sesaat karena kurangnya suplai darah ke otak. Biasanya gejala yang timbul seperti pusing, penglihatan yang kabur, bahkan wajah yang pucat pasi.
c. Shock
Shock merupakan suatu kondisi hilangnya volume sirkulasi darah efektif. Akibat dari infeksi berat yang dialami seseorang ketika ia mendengar suatu kejadian atau kabar buruk yang sulit ia terima.
Menurut Bruner & Suddarth (2002), Shock adalah suatu sindrom klinis akibat kegagalan akut fungsi sirkulasi yang menyebabkan ketidak cukupan perfusi jaringan dan oksigenasi jaringan, dengan akibat gangguan mekanisme homeostasis.
Dimana saya mengambil kesimpulan bahwa shock adalah keadaan kaget yang berat dan terjadi secara tiba-tiba dan cepat yang mengganggu sistem sirkulasi yang menyebabkan kurangnya suplai oksigen di dalam tubuh.
d. Koma
Cedera koma merupakan situasi darurat medis ketika penderitanya mengalami keadaan tidak sadar dalam jangka waktu tertentu. Ketidaksadaran ini disebabkan oleh menurunnya aktivitas di dalam otak. Penderita tidak akan bisa memberikan respon apapun selama mengalami koma.
Menurut Aru W. Sudoyo dkk (2007), koma adalah keadaan penurunan kesadaran dan respon dalam bentuk yang berat, kondisinya seperti pasien yang tidak dapat bangun dari tidurnya.
Saya mengambil kesimpulan bahwa koma adalah kondisi tidak sadarkan diri apalagi dalam hal memberikan respon dalam jangka waktu yang tertentu. Bisa dalam jangka waktu pendek dan juga berkepanjangan.

.jpg)


.jpg)



Komentar
Posting Komentar